WARTA 24 SULAWESI BARAT

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Vertikal Housing Solusi Nyata di Tengah Keterbatasan Lahan ...

Posted by On 14.02

Vertikal Housing Solusi Nyata di Tengah Keterbatasan Lahan ...

TINGGINYA kebutuhan akan hunian bagi masyarakat menjadikan bisnis properti di Kabupaten Mamuju ibarat kata pepetah bagai jamur di musim hujan, di setiap sudut-sudut kawasan perkotaan menyebar tak beraturan deretan rumah tapak (landed house) bukan hanya menjadi solusi bagai pemenuhan papan masyarakat, akan tetapi menjadi bencana ditengah keterbatas lahan pengembangan

Kini Kabupaten Mamuju menjadi kutub pertumbuhan ekonomi sekaligus epicentrum kegiatan social, ekonomi serta politik di bagian Barat Sulawesi, sehingga berimplikasi kepada bergesernya aktivitas utama wilayah dari sektor pertanian kesektor-sektor jasa, sejalan dengan UU Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007, yang menjelaskan bahwa kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian hal dibuktikan dengan tren pergeseran kedua sektor diatas melalui data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan tahun 2017.

Kodisi eksisting diatas mengakibatkan terjadinya pergerakan sentripetal masyarakat untuk bermukim di kawasan perkotaan sebagai akibat pemusatan kegiatan ekonomi dalam satu kawasan, seperti yang di ungkapkan oleh Perroux dalam teori Kutub Pertumbuhan, bahwa pembangunan tidak terjadi dimana-mana secara serentak, tetapi muncul ditempat-tempat tertentu dengan intensitas yang berbeda.

Tempat-tampat itulah yang dinamakan titik-titik dan kutub-kutub pertumbuhan.

Kawasan yang di deliniasi sebagai kawasan perkotaan di Kabupaten Mamuju hanya mengakomodir 1.630 Ha lahan pengembangan pembangunan yang di dalamnya di bagi dalan beberapa segmen kawasan baik itu kawasan permukiman, perkantoran, jasa perdagangan, pendidikan serta beberapa kawasan lainnya, Karena pada dasarnya kota dalam pen gertian Chapin dan Kaiser (1977), menyebutkan bahwa fungsi lokasi (ruang) kota dalam konteks sustainable city adalah berfungsi menjadi tempat untuk bekerja, tempat tinggal, tempat hiburan, sistem ruang terbuka dan perlindungan lingkungan. karena komponen â€" komponen tersebut menjadi indikator kehidupan di suatu kota. Keterbatasan ruang merupakan “buah simalakama” di kemudian hari jika tidak di antisipasi dengan baik.

Arus sirkulasi penduduk di kawasan perkotaan Kabupaten Mamuju bagai air “bah” yang tengah menghantam, mengapa tidak, berdasarkan data statistik pertumbuhan penduduk tiap tahun trus meningkat secara linear sebesar 8,39 %, jumlah pertumbuhan penduduk tersebut berbanding lurus dengan kebutuhan lahan untuk perumahan maupun fasilitas yang lain. Seiring bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan lahan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat kota menjadi semakin berkurang. Pada tahun 2026 jumlah penduduk Kabupaten Mamuju diperkirakan mencapai 187.900 jiwa jika dilih at dari pendekatan linear deret aritmatik.

Hal ini merupakan pesan bagi pemangku kebijakan yang harus mampu menyediakan lahan pengembangan pembangunan sebesar 140.925 Ha ditahun 2026. Sejalan dengan ungkapan Tjuk Kuswartojo seorang pemerhati kebijakan permukiman perkotaan dan lingkungan, saat diskusi bertajuk Mendorong Realisasi UU Tabungan Perumahan Nasional, di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Senin (13/8/2012) yang mengemukakan bahwa Kebutuhan ruang ideal perorang sebesar 7.5 m2.

Melihat kondisi eksisting kemiringan lereng di Kabupaten Mamuju di dominasi kemiringan >25 % mengakibatkan pengembangan pembangunan ke arah timur kawasan perkotaan semakin sulit, Belum lagi pemenuhan ruang terbuka hijau sebesar 30 % dari luas kawasan perkotaan 1.630 Ha atau sebesar 489 Ha mengakibatkan lahan yang bisa untuk dimanfaatkan pengembangan pembangunan hanya sebesar 1.141 Ha

Konsep vertical housing menjadi sangat penting karena perannya yang mampu menghemat penggunaan lah an yang akan dibangun di kawasan perkotaan Kabupaten Mamuju. Dengan Kebutuhan lahan pengembangan pembangunan tahun 2026 seluas 140.925 Ha dapat diminimalisir sebesar 24.450 Ha Jika arah pengembangan pembangunan diarahkan sampai 15 (lima belas) lantai ke atas

Peremajaan kota atau urban renewal dengan konsep pengembangan hunian vertikal perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah Kabupaten Mamuju sebagai salah satu bentuk upaya mitigasi aglomerasi ekonomi yang sedang berlangsung karena dapat menjadi solusi atas peningkatan efisiensi penggunaan tanah, ruang dan daya tampung kota, peningkatan kualitas hidup masyarakat berpenghasilan menengah- bawah, pencegahan tumbuhnya kawasan kumuh perkotaan, peningkatan efisiensi prasarana, sarana dan utilitas perkotaan, peningkatan produktivitas masyarakat dan daya saing kota, peningkatan pemenuhan kebutuhan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah-bawah serta peningkatan penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi

Penerapan vertical house juga memerlukan strategi dan kebijakan yang mengatur. Melalui strategi yang tepat, misalnya dengan pembatasan jumlah tingkat (lantai), kewajiban memiliki area tumbuh pohon sebagai vegetasi hijau, serta sistem saluran pembuangan air/limbah yang sesuai. Komponen â€" komponen harus diperhatikan secara mendetail sehingga bangunan tinggi yang ada tidak hanya menjadi bangunan yang “menjulang tinggi” tanpa kebermanfaatan apapun, namun dapat pula memberikan sumbangsih bagi lingkungan demi menjaga keseimbangan ekosistem dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan di kabupaten yang berjuluk manakarra ini.

Penulis: Radinal Jayadi
Tenaga Ahli Bidang Penataan Ruang di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat


Sumber: Google News | Warta 24 Mamuju Tengah

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »